Hukum Aqiqah Lengkap Dengan Dalilnya

Hukum Aqiqah Lengkap Dengan Dalilnya

Hukum Aqiqah – Seperti yang kita tahu, saat anak lahir ke dunia ini biasanya orang tuanya sering melakukan acara aqiqahan untuk anak mereka. Aqiqah sendiri merupakan perayaan penyembelihan kambing yang dilakukan sebagai bentuk dan juga ungkapan rasa syukur karena bayi yang baru saja lahir.

Cek disini: Paket Aqiqah

Sedangkan untuk persyaratan jumlah hewan kambing yang akan disembelih antara bayi dengan jenis kelaminlaki- laki dan perempuan juga berbeda. Untuk anak perempuan 1 kambing dan 2 ekor kambing untuk anak laki- laki. Lalu seperti apa hukum aqiqah menurut ajaran Islam?

Terdapat beberapa pendapat yang menerangkan tentang hukum aqiqah dari beberapa ulama seperti wajib, sunnah, dan sunnah muakkad. Di sini akan kami jelaskan dengan lengkap mengenai hal tersebut. Jadi anda bisa mengetahui bagaimanakah sebenarnya aqiqah itu.

Hukum Aqiqah Diri Sendiri

hukum aqiqah

 

Menilik ke hukum aqiqah menurut jumhur ulama yakni sunnah muakkad, ini dibebankan kepada wali dari sang anak yang telah dilahirkan yang berkewajiban untuk menafkahinya. Dalil tentang kesunnahannya yakni perbuatan Rasulullah dan juga para sahabat yang telah melakukan aqiqah.

Ulama ahli fiqih telah sepakat, bahwa waktu pelaksanaan aqiqah ini yang sesuai sunnah yaitu pada hari ke tujuh setelah kelahiran. Aqiqah ini tidak sah jika dilakukan sebelum bayi lahir, sebab lahirnya bayi yang menjadi penyebab adanya perintah untuk aqiqah ini.

Bila masih terlewati, bisa dilaksanakan tanpa batasan waktu. Dan kapanpun aqiqah ini bisa dilakukan. Sebagian ulama khususnya madzhab Syafi’i menyatakan bahwa gugurnya tuntutan mengaqiqahi sesudah anak mencapai akilbaligh, kemudian memperbolehkan anak untuk mengaqiqahi dirinya sendiri.

Namun, sebagian ulama lain juga menyatakan tuntutan untuk mengaqiqahi akan tetap menjadi tanggung jawab sang ayah walaupun anak telah berusia dewasa.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

hukum aqiqah

Jika sewaktu kecil belum sempat diaqiqahi, apakah jika sudah dewasa masih harus diaqiqahkan juga? Lantas bagaimana hukumnya bila aqiqah dilakukan saat sudah dewasa? Aqiqah hukumnya sunnah muakkad atau ditekankan ini menurut pendapat yang lebih kuat.

Yang mendapatkan perintah yaitu bapak, sehingga tak wajib bagi ibu atau anak menunaikannya. bila belum ditunaikan, maka sunnah aqiqah tak gugur meski anak sudah baligh.

Jika anak belum diaqiqahi oleh bapaknya, menurut ulama tak wajib mengaqiqahi dirinya sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qudamah yang mengatakan,” Jika sia belum diaqiqahi sama sekali, dan dia sudah baligh dan sudah bekerja, maka sebenarnya dia tak wajib mengaqiqahi dirinya sendiri.”.

Hukum Aqiqah Untuk Orang Tua

hukum aqiqah

Mengenai hukum mengaqiqahkan orang tua itu tidak ada larangan, asal syarat dan juga sah nya di dlam proses aqiqah sudah terpenuhi. Untuk mengaqiqahi orang tua yang masih hidup,maka hukumnya diperbolehkan jika ada izin darinya.

Sedangkan jika kita mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal, maka hukumnya juga diperbolehkan jika ada wasiat sebagaimana telah diperbolehkannya untuk melakukan qurban atas nama mayit ini sesuai dengan beberapa pendapat.

Jika otang tua sebelum meninggal tak pernah berasiat untuk diaqiqahi, maka cukup dengan anda menyembelih hewan dan disedekahkan atas nama orang tua. Hal seperti ini telah menghasilkan semua kebaikan bagi orang yang sudah meninggal.

Intinya, kesunahan atau keabsahan aqiqah akan gugur bagi orang tua atau orang yang wahib menafkahi bila anak tersebut telah menginjak usia dewasa atau baligh. Sedangkan tidak gugur keabsahan atau kesunahan aqiqah untuk dirinya sendiri bia ia sudah masuk usia dewasa atau baligh.

Tata Cara Aqiqah Yang Benar

Sangat dianjurkan bagi anda yang ingin beraqiqah untuk mengetahui tata cara aqiqah yang benar. Adapun tata cara pelaksaan aqiqah menurut syari’at Islam diantaranya yaitu:

1. Ketahui Waktunya.

Ulama telah sepakat untuk waktu aqiqah yang paling utama adalah di hari ke 7 awal kelahiran bayi. jika berhalangan, maka bisa dilaksanakan hingga hari ke 14 atau 21. Jika kondisi ekonominya tak memungkinkan, maka lepaslah kewajiban untuk melakukan aqiqah tersebut.

2. Jumlah Hewan Yang Diaqiqahkan.

Anjuran dalam tata cara aqiqah yang benar yaitu untuk anak laki- laki sebanyak 2 ekor kambing dan jika kondisi harta seorang muslim itu untuk membeli 2 ekor kambing tidak cukup, maka boleh untuknya membeli satu ekor kambing saja. Sedangkan untuk anak perempuan ini dianjurkan agar menyembelih satu ekor kambing.

3. Terpenuhinya syarat hewan yang disembelih.

Hewan yang disembelihini harus memenuhi syarat seperti pada hewan untuk qurban. Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk memilih hewan qurban yang berupa domba putih yang sehat. Dan umur dari hewan tersebut batas minimalnya setengah tahun.

4. Daging dibagikan pada yang Berhak.

Untuk membagikan daging aqiqah tak sama dengan cara membagikan daging qurban. Untuk aqiqah, maka seorang muslim haruslah membagikan daging yang telah disembelih ini dalam kondisi yang sudah dimasak atau sudah matang.

5. Memberikan nama pada anak dan mencukur rambut.

Ketika anda mengadakan aqiqah maka seorang muslim telah disunnahkan untuk memberikan nama yang baik pada anak dan mencukur rambut bayi. Nam yang diberikan ini merupakan sebuah doa untuk kebaikan bagi sanga anak.

6. Saat menyembelih membaca doa.

Ketika menyembelih apapun, maka seorang muslim wajib berdoa. Sama seperti hewan aqiqah.

Hukum Makan Daging Aqiqah Bagi Empunya Hajat

Jika kita membahas tentang bolehkah daging aqiqah dimakan oleh yang melaksanakan aqiqah atau yang punya hajat, maka di bawah ini adalah jawaban dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau menjawab:

فإنه يأكل منها ويهدي ويتصدق ، وليس هنالك قدر لازم اتباعه في ذلك ، فيأكل ما تيسر ، ويهدي ما تيسر ، ويتصدق بما تيسر ، وإن شاء جمع عليها أقاربه وأصحابه ، إما في البلد وإما خارج البلد ، ولكن في هذه الحال لابد أن يعطي الفقير منها شيئاً . ولا حرج أن يطبخها ويوزعها بعد الطبخ أو يوزعها وهي نية ، والأمر في هذا واسع ” انتهى .

“Hendaknya daging aqiqah dimakan sebagiannya. Sebagiannya lagi dihadiahkan dan disedekahkan. Adapun kadar pembagiannya tidaklah ada kadar tertentu. Yang dimakan, yang dihadiahkan dan yang disedekahkan dibagi sesuai kemudahan. Jika ia mau, ia bagikan pada kerabat dan sahabat-sahabatnya. Boleh jadi pembagiannya tersebut di negeri yang sama atau di luar daerahnya. Akan tetapi, mestinya ada jatuh untuk orang miskin dari daging aqiqah tersebut. Tidak mengapa juga daging aqiqah tersebut dimasak (direbus) dan dibagi setelah matang atau dibagi dalam bentuk daging mentah. Seperti itu ada kelapangan.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 5: 228).

Dengan demikian, jelas sudah bahwa daging aqiqah boleh dimakan oleh yang punya hajat, namun sebagian. Dan sebagian yang lainnya diberikan kepada yang berhak menerima. Seperti tetangga dan fakir miskin.

Cek disini: Jasa Aqiqah

Dari penjelasan diatas sudah jelas bukan hukum aqiqah itu seperti apa. Dan kini anda bisa bertambah pengetahuannya tentang hukum aqiqah dan juga dalilnya serta tata cara pelaksanaannya dengan benar sesuai syari’at Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Hubungi Kami Via Whatsapp