Daftar Menu Mpasi 6 Bulan Minggu Pertama Pada Bayi

Daftar Menu Mpasi 6 Bulan Minggu Pertama Pada Bayi

Menu Mpasi 6 Bulan – Pada saat bayi mulai menginjak usia 6 bulan, maka peran ibu sangat penting. Karena usia tersebut bayi mulai diberikan makanan pendamping sebagai proses pertumbuhan. Pada usia 6 bulan tersebut, merupakan periode awal bagi bagi yang akan menerima makanan tambahan.

Makanan tambahan tersebut biasa disebut sebagai makanan pendamping ASI atau MPASI. Nah, dalam artikel ini kami akan membahas mengenai daftar menu mpasi 6 bulan minggu pertama bayi.

Pada saat bayi tersebut sudah menginjak usia 6 bulan, maka perlu mendapatkan gizi yang cukup. Hal ini untuk dapat menunjang pertumbuhan serta perkembangan otak bayi. Memberikan MPASI sebaiknya yang mempunyai kandungan berbagai nutrisi serta gizi banyak.

Daftar Menu Mpasi 6 Bulan Minggu Pertama

Menu Mpasi 6 Bulan

Pemberian MPASI bagi bayi yang menginjak usia 6 bulan ini memang sangat penting. Hal tersebut karena kebutuhan nutrisi dan gizi bayi sudah semakin meningkat serta tidak cukup hanya memberikan ASI. Mempersiapkan daftar menu Mpasi 6 bulan minggu pertama ini memang perlu dilakukan.

Puree Kentang Susu

Untuk hari pertama sebaiknya anda memperkenalkan menu satu jenis makanan terlebih dahulu. Puree kentang susu ini cocok bagi bayi untuk disajikan di hari pertamanya. Resep MPASI yang mudah dilakukan serta mempunyai gizi yang tinggi.

Caranya yaitu dengan mencuci kentang dan potong, kemudian kukuslah hingga 15 menit. Setelah itu ulek kentang kemudian tambahkan ASIP dan aduk rata.

Menu Mpasi 6 Bulan dengan Bubur Beras Merah Tahu

Hari kedua yaitu anda dapat memberikan makanan yang diselingi dengan rasa gurih. Anda dapat membuat makanan beras merah dengan campuran tahu. Beras merah tersebut mengandung serat dan baik untuk pencernaan bayi serta rendah gula.

Menu Mpasi 6 Bulan dengan Bubur Beras Susu

Makanan sederhana namun mempunyai gizi yang tinggi. Anda juga dapat membuat makanan bubur beras susu ini sebagai makanan pada hari ketiga.

Bahannya sangat sederhana serta proses memasaknya juga ringakas dan cepat. Hanya dengan mencampurkan tepung beras, air putih dan ASIP. Kemudian dimasak atau dipanaskan.

Bubur Kentang, Ayam Kampung Dan Bayam

Makanan satu ini merupakan jenis makanan yang mengandung karbohidrat dan cocok untuk hari ke empat. Kandungan dari gula bagus bagi asupan bayi anda. Sebagai salah satu sumber proteinnya, anda dapat menambahkan ayam dalam masakan tersebut.

Jangan lupa untuk menambahkan beberapa sayuran sebagai sumber vitamin bagi bayi. Bayam merupakan salah satu zat besi yang bagus bagi pertumbuhan tulang bayi.

Puree Alpukat dan Pisang

Pada hari kelima, anda dapat memberikan makanan tersebut. Buah alpukat sangat kaya akan lemak serta baik bagi perkembangan bayi. Pisang juga mempunyai kandungan vitamin yang tinggi bagi bayi.

Kombinasi kedua buah tersebut dapat menghasilkan rasa manis dan enak. Teksturnya juga mudah untuk ditelan bayi pada usia 6 bulan.

Puree Ubi Merah, Jagung dan Wortel

Perpaduan daru ubi merah, jagung serta wortel ini cocok bagi bayi anda untuk makanan hari keenam. Ketiga kombinasi tersebut akan menghasilkan rasa yang nikmat. Ketiganya juga mempunyai asupan karbohidrat serta protein yang bagus bagi bayi anda.

Puree Apel dan Pir

Menu Mpasi 6 Bulan

Hari ketujuh, anda dapat memberikan apel dan pir. Kombinasi kedua buah tersebut dapat memberikan kesegaran serta rasa baru yang dapat dipelajari oleh bayi. Kedua buah tersebut juga mempunyai kandungan vitamin C yang tinggi dan baik bagi kekebalan tubuh bayi.

Daftar menu Mpasi 6 bulan minggu pertama diatas dapat anda gunakan sebagai menu makanan si kecil. Semoga resep MPASI minggu pertama diatas di sukai oleh si kecil dan bermanfaat bagi pertumbuhannya.

Syarat Kambing Aqiqah Menurut Islam

Syarat Kambing Aqiqah Menurut Islam

Syarat Kambing Aqiqah – Orang tua akan sangat bahagia melihat buah hatinya lahir ke dunia ini. Sebagai salah satu wujud kebahagiaan dari orang tua yang dikaruniai anak, maka sebaiknya melakukan aqiqah untuk menebus kelahiran dari anaknya tersebut.

Cek disini: Jasa Aqiqah

Lalu seperti apa syarat kambing aqiqah yang baik dan benar menurut Islam itu? Kita akan simak penjelasannya di dalam artikel ini selengkapnya.

Seperti halnya ketika Idul Adha, untuk syarat kambing aqiqah ini juga sama seperti dengan kambing yang harus dikurbankan. Syarat sah itu meliputi jenis hewan yang diaqiqahkan, syarat fisik kambing aqiqah, umur kambing, dan lainnya.

Bagi setiap muslim penting sekali melaksanakan aqiqah sebagai sebuah ibadah yang sesuai dengan syariat Islam. Dengan cara mengikuti contoh sunnah Rasul.

Syarat Kambing Aqiqah Sesuai Sunnah

syarat kambing aqiqah

Hukum untuk melakukan aqiqah ini yaitu Sunnah muakkad. Untuk anda yang mampu, bisa melaksanakan aqiqah saat hari ke 7 kelahiran anak. Dan ini hukumnya wajib. Akan tetapi jika anda tak mempu, bisa diganti ketika anak sudah besar. Bisa saja saat anak laki laki khitanan atau saat anak perempuan menikah.

Untuk aqiqah kambing jantan, maka syaratnya kambing tidak boleh cacat dan dalam kondisi yang sehat. Yaitu tidak buta atau hilang sebagian kupingnya.

Misalnya besar sebelah tanduknya. Kambingnya juga harus gemuk dan tak boleh kambing yang kurus. Dan yang terakhir, umur kambing harus yang sudah berusia 1 tahun sempurna dan tak boleh kurang.

Sebenarnya untuk jenis kambing bisa menggunakan kambing jantan ataupun kambing betina. Asalkan untuk kambing betina yang disembelih tidak boleh yang sedang dalam keadaan hamil.

Meski memang untuk aqiqah kambing betina ada yang mengatakan tidak boleh dilakukan. Namun menurut syariat ternyata boleh dilakukan berdasarkan hadits Kifayatul Akhyar juz II halaman 236.

Yang artinya sebagai berikut: “Ketahuilah, sebenarnya dalam keabsahan dan kebolehan qurban atau aqiqah tak ada perbedaan baik itu antara ternak yang betina ataupun ternak yang jantan jika umurnya sudah mencukupi”.

Syarat Kambing Aqiqah Berumur

syarat kambing aqiqah

Sebenarnya tak ada hadits khusus yang menjelaskan mengenai syarat sah kambing yang nantinya akan digunakan sebagai hewan aqiqah. Tipe hewan yang digunakan sebagai hewan aqiqah yaknijenis hewan mamalia yang kecil seperti domba, kambing dan biri- biri.

Untuk kategori jenis kelamin kambingnya boleh jantan ataupun betina. Sedangkan untuk umurnya, untuk domba atau biri-biri saat umurnya cukup satu tahun atau kurang sedikit.

Sementara kambing umurnya cukup dua tahun dan masuk tahun ketiga. Hewan kambing yang diaqiqahkan harus yang kondisinya sehat dan bagus, jangan memilih kambing yang cacat dan sedang sakit.

Dibawah ini menjelaskan umur yang cukup digunakan untuk aqiqah. Yakni limatahun umur untuk unta, untuk sapi umurnya dua tahun, satu tahun untuk ma’iz, dan enam bulan untuk umur dho’n.

Berdasarkan argumen ini, tak diwajibkan memotong hewan yang mahal harga hewannya. Yang paling penting yaitu, aqiqah dengan syarat seperti umur kambing aqiqah yang telah mencukupi qurban yakni tercapainya umur dan telah bebas dari aib.

Lebih lengkap disini

6 Dalil Ketentuan Hewan Aqiqah

syarat kambing aqiqah

Di bawah ini adalah ketentuan hewan aqiqah yang terdapat dalam 6 dalil hadits shohih:

1. Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), untuk lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].

2. Hadist dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

3. Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan].

4. Hadist dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda : “Menaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied].

5. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].

6. Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits iwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil].

Tata Cara Penyembelihan Hewan Aqiqah

Selanjutnya untuk tata cara dalam penyembelihan hewan aqiqah haruslah disesuaikan dengan tuntunan serta syariat ajaran agama Islam. Yaitu:

  1.  Diawali dengan membaca Basmallah
  2. Membaca Shalawat Nabi
  3. Dilanjutkan membaca Takbir
  4. Hewan disembelih sendiri, jika diwakilkan maka sebaiknya menyaksikan proses penyembelihannya.
  5. Membaca doa untuk penyembelihan aqiqah
  6. Hewan yang akan disembelih kemudian dihadapkan ke arah kiblat dengan posisi yang dimiringkan, rusuk kiri berasa di sebelah kanan.
  7. Daging kambing yang sudah dimasak kemudian dibagikan kepada semua tetangga dan juga orang miskin.
  8. Dilaksanakan di hari ke-7 atau ke-14, ke 21 atau di hari kelahiran sang anak.
  9. Ketika pelaksanakan aqiqah juga sebaiknya dilakukan cukur atau potong rambut bayi dan juga diberi nama yang terbaik.

Agar dapat mempermudah anda untuk melaksanakan aqiqah, sebaiknya pilih hewan yang bagus dan sempurna.

Hikmah Melaksanakan Aqiqah

Ketika anda melaksanakan aqiqah, maka menurut Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam mempunyai berbagai macam hikmah yang terkandung di dalamnya. Diantaranya adalah:

1. Untuk menghidupkan sunnah nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk meneladani Nabi Ibrahim alaihissala, ketika Allah SWT menebus putra Ibrahim yaitu Ismail alaihissalam.

2. Di dalam pelaksanaan aqiqah terkandung unsur perlindungan dari syaithan yang bisa mengganggu anak yang telah terlahir tersebut. Hal ini sesuai dengan makna hadits yang artinya seperti berikut ini: ” Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.” Jadi, anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya maka insya Allah bisa lebih terlindungi dari gangguan syaithan yang memang sering mengganggu anak- anak. Hal inilah yang telah dimaksud oleh Al Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah,” Lepasnya dia dari jeratan syaithan tergadai oleh aqiqahnya.”

3. Aqiqah sendiri merupakan tebusan hutang anak agar dapat memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya nanti di hari perhitungan tiba. Seperti yang Imam Ahmad katakan,”Dia tergadai dan telah memberikan Syafaat untuk kedua orang tuanya (dengan menggunakan aqiqahnya).”

4. Pelaksanaan aqiqah ini adalah sebagai sarana untuk menampakkan rasa yang gembira dalam melaksanakan syari’at agama Islam dan bertambahnya keturunan umat mukmin yang nantinya akan memperbanyak umat Rasulullah di hari kiamat.

5. Aqiqah bisa memperkuat tali persaudaraan yang ada di antara masyarakat.

Cek juga: Paket Aqiqah Jakarta

Penjelasan mengenai syarat kambing aqiqah yang lengkap ini bisa anda jadikan sebagai pedoman untuk pelaksanaan aqiqah putra putri anda.

Hukum Aqiqah Lengkap Dengan Dalilnya

Hukum Aqiqah Lengkap Dengan Dalilnya

Hukum Aqiqah – Seperti yang kita tahu, saat anak lahir ke dunia ini biasanya orang tuanya sering melakukan acara aqiqahan untuk anak mereka. Aqiqah sendiri merupakan perayaan penyembelihan kambing yang dilakukan sebagai bentuk dan juga ungkapan rasa syukur karena bayi yang baru saja lahir.

Cek disini: Paket Aqiqah

Sedangkan untuk persyaratan jumlah hewan kambing yang akan disembelih antara bayi dengan jenis kelaminlaki- laki dan perempuan juga berbeda. Untuk anak perempuan 1 kambing dan 2 ekor kambing untuk anak laki- laki. Lalu seperti apa hukum aqiqah menurut ajaran Islam?

Terdapat beberapa pendapat yang menerangkan tentang hukum aqiqah dari beberapa ulama seperti wajib, sunnah, dan sunnah muakkad. Di sini akan kami jelaskan dengan lengkap mengenai hal tersebut. Jadi anda bisa mengetahui bagaimanakah sebenarnya aqiqah itu.

Hukum Aqiqah Diri Sendiri

hukum aqiqah

 

Menilik ke hukum aqiqah menurut jumhur ulama yakni sunnah muakkad, ini dibebankan kepada wali dari sang anak yang telah dilahirkan yang berkewajiban untuk menafkahinya. Dalil tentang kesunnahannya yakni perbuatan Rasulullah dan juga para sahabat yang telah melakukan aqiqah.

Ulama ahli fiqih telah sepakat, bahwa waktu pelaksanaan aqiqah ini yang sesuai sunnah yaitu pada hari ke tujuh setelah kelahiran. Aqiqah ini tidak sah jika dilakukan sebelum bayi lahir, sebab lahirnya bayi yang menjadi penyebab adanya perintah untuk aqiqah ini.

Bila masih terlewati, bisa dilaksanakan tanpa batasan waktu. Dan kapanpun aqiqah ini bisa dilakukan. Sebagian ulama khususnya madzhab Syafi’i menyatakan bahwa gugurnya tuntutan mengaqiqahi sesudah anak mencapai akilbaligh, kemudian memperbolehkan anak untuk mengaqiqahi dirinya sendiri.

Namun, sebagian ulama lain juga menyatakan tuntutan untuk mengaqiqahi akan tetap menjadi tanggung jawab sang ayah walaupun anak telah berusia dewasa.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

hukum aqiqah

Jika sewaktu kecil belum sempat diaqiqahi, apakah jika sudah dewasa masih harus diaqiqahkan juga? Lantas bagaimana hukumnya bila aqiqah dilakukan saat sudah dewasa? Aqiqah hukumnya sunnah muakkad atau ditekankan ini menurut pendapat yang lebih kuat.

Yang mendapatkan perintah yaitu bapak, sehingga tak wajib bagi ibu atau anak menunaikannya. bila belum ditunaikan, maka sunnah aqiqah tak gugur meski anak sudah baligh.

Jika anak belum diaqiqahi oleh bapaknya, menurut ulama tak wajib mengaqiqahi dirinya sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qudamah yang mengatakan,” Jika sia belum diaqiqahi sama sekali, dan dia sudah baligh dan sudah bekerja, maka sebenarnya dia tak wajib mengaqiqahi dirinya sendiri.”.

Hukum Aqiqah Untuk Orang Tua

hukum aqiqah

Mengenai hukum mengaqiqahkan orang tua itu tidak ada larangan, asal syarat dan juga sah nya di dlam proses aqiqah sudah terpenuhi. Untuk mengaqiqahi orang tua yang masih hidup,maka hukumnya diperbolehkan jika ada izin darinya.

Sedangkan jika kita mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal, maka hukumnya juga diperbolehkan jika ada wasiat sebagaimana telah diperbolehkannya untuk melakukan qurban atas nama mayit ini sesuai dengan beberapa pendapat.

Jika otang tua sebelum meninggal tak pernah berasiat untuk diaqiqahi, maka cukup dengan anda menyembelih hewan dan disedekahkan atas nama orang tua. Hal seperti ini telah menghasilkan semua kebaikan bagi orang yang sudah meninggal.

Intinya, kesunahan atau keabsahan aqiqah akan gugur bagi orang tua atau orang yang wahib menafkahi bila anak tersebut telah menginjak usia dewasa atau baligh. Sedangkan tidak gugur keabsahan atau kesunahan aqiqah untuk dirinya sendiri bia ia sudah masuk usia dewasa atau baligh.

Tata Cara Aqiqah Yang Benar

Sangat dianjurkan bagi anda yang ingin beraqiqah untuk mengetahui tata cara aqiqah yang benar. Adapun tata cara pelaksaan aqiqah menurut syari’at Islam diantaranya yaitu:

1. Ketahui Waktunya.

Ulama telah sepakat untuk waktu aqiqah yang paling utama adalah di hari ke 7 awal kelahiran bayi. jika berhalangan, maka bisa dilaksanakan hingga hari ke 14 atau 21. Jika kondisi ekonominya tak memungkinkan, maka lepaslah kewajiban untuk melakukan aqiqah tersebut.

2. Jumlah Hewan Yang Diaqiqahkan.

Anjuran dalam tata cara aqiqah yang benar yaitu untuk anak laki- laki sebanyak 2 ekor kambing dan jika kondisi harta seorang muslim itu untuk membeli 2 ekor kambing tidak cukup, maka boleh untuknya membeli satu ekor kambing saja. Sedangkan untuk anak perempuan ini dianjurkan agar menyembelih satu ekor kambing.

3. Terpenuhinya syarat hewan yang disembelih.

Hewan yang disembelihini harus memenuhi syarat seperti pada hewan untuk qurban. Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk memilih hewan qurban yang berupa domba putih yang sehat. Dan umur dari hewan tersebut batas minimalnya setengah tahun.

4. Daging dibagikan pada yang Berhak.

Untuk membagikan daging aqiqah tak sama dengan cara membagikan daging qurban. Untuk aqiqah, maka seorang muslim haruslah membagikan daging yang telah disembelih ini dalam kondisi yang sudah dimasak atau sudah matang.

5. Memberikan nama pada anak dan mencukur rambut.

Ketika anda mengadakan aqiqah maka seorang muslim telah disunnahkan untuk memberikan nama yang baik pada anak dan mencukur rambut bayi. Nam yang diberikan ini merupakan sebuah doa untuk kebaikan bagi sanga anak.

6. Saat menyembelih membaca doa.

Ketika menyembelih apapun, maka seorang muslim wajib berdoa. Sama seperti hewan aqiqah.

Hukum Makan Daging Aqiqah Bagi Empunya Hajat

Jika kita membahas tentang bolehkah daging aqiqah dimakan oleh yang melaksanakan aqiqah atau yang punya hajat, maka di bawah ini adalah jawaban dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau menjawab:

فإنه يأكل منها ويهدي ويتصدق ، وليس هنالك قدر لازم اتباعه في ذلك ، فيأكل ما تيسر ، ويهدي ما تيسر ، ويتصدق بما تيسر ، وإن شاء جمع عليها أقاربه وأصحابه ، إما في البلد وإما خارج البلد ، ولكن في هذه الحال لابد أن يعطي الفقير منها شيئاً . ولا حرج أن يطبخها ويوزعها بعد الطبخ أو يوزعها وهي نية ، والأمر في هذا واسع ” انتهى .

“Hendaknya daging aqiqah dimakan sebagiannya. Sebagiannya lagi dihadiahkan dan disedekahkan. Adapun kadar pembagiannya tidaklah ada kadar tertentu. Yang dimakan, yang dihadiahkan dan yang disedekahkan dibagi sesuai kemudahan. Jika ia mau, ia bagikan pada kerabat dan sahabat-sahabatnya. Boleh jadi pembagiannya tersebut di negeri yang sama atau di luar daerahnya. Akan tetapi, mestinya ada jatuh untuk orang miskin dari daging aqiqah tersebut. Tidak mengapa juga daging aqiqah tersebut dimasak (direbus) dan dibagi setelah matang atau dibagi dalam bentuk daging mentah. Seperti itu ada kelapangan.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 5: 228).

Dengan demikian, jelas sudah bahwa daging aqiqah boleh dimakan oleh yang punya hajat, namun sebagian. Dan sebagian yang lainnya diberikan kepada yang berhak menerima. Seperti tetangga dan fakir miskin.

Cek disini: Jasa Aqiqah

Dari penjelasan diatas sudah jelas bukan hukum aqiqah itu seperti apa. Dan kini anda bisa bertambah pengetahuannya tentang hukum aqiqah dan juga dalilnya serta tata cara pelaksanaannya dengan benar sesuai syari’at Islam.

WhatsApp Hubungi Kami Via Whatsapp